Masyarakat baru, telah lama berjalan 'efektif' beberapa dekade terakhir. Teknologi barang kali menjadi motivator utama dalam membentuk karakter tersebut. Ketika era industri telah berlalu menjadi retorika lama, dan era informasi menerjang tunggalanggang dan mengalahkan apapun yang menjadi rintangan "mungkin idealnya demikian" meskipun ternyata masih ada beberapa pengecualian. Yang kemudian mengundang dimulailah perang baru: perang antar wacana!
Beberapa cerukan-cerukan yang tidak bisa dibilang kecil menjadi momok evolutif masyarakat sosial baru (spesies baru, meminjam kata Derrida). Ide dan keyakinan lama yang sejauh melanpui sejarah kekinian ini masih melembaga dibanyak dunia timur menjadi alasan mengapa gelombang besar ini tidak serentak menimbulkan devosi (cara pelayanan) masif masyarakat dunia, dan justru menimbulkan ketegangan dan hambatan komunikasi.
Cerukan-cerukan ini menimbulkan pilar-pilar segregasi (pengasingan antar kelompok) yang sulit ditembus: semisal sekulerisme, antitesis terhadap lembaga agama atau sebaliknya penolakan terhadap universalisme dan humanisme. Kelompok besar peradapat orang-orang muslim berada di dalamnya, eksklusivitas sebagian kalangan Katolik juga masuk di dalamnya, dan sedikit dari pecahan Protestan, kelompok-kelompok alternativ serta sebagian pandangan puritan. Ide tentang keselamatan satu golongan atau tentang kemutlakan wahyu memposisikan diri menjadi negasi (sangkalan) dari apa yang oleh gelombang baru dikumandangkan sebagai telah runtuhnya dogma-wahyu dan kembali pada tanda konkrit realitas masyarakat. Di barat (istilah untuk menyebutkan Eropa Barat dan Amerika Utara) , kelompok negasi ini kehilangan banyak pengikut. Karena lingkungan yang diciptakan di sana mendorong spesies manusia lebih menyukai kebebasannya, walaupun tanpa berfikir ulang apakah kebebasan menjamin kemerdekaannya, kita mungkin akan kembali merunut tentang sinyal pasar dan tekanan 'penuntutan, pengakuan'.
Di Indonesia kita, gejala ini tidak mudah dibaca oleh kalangan menengah, namun negasi adalah cerukan besar yang diadakan dalam nalar kritis kelompok terabaikan: masyarakat miskin dan ratusan lembaga puritam khususnya di kalangan Islam. Walaupun gambaran publik seolah mengarahkan pada islam yang 'teramat taat' sering dianggap "salah tempat" atau bahkan "bibit teroris" dalam dunia modern islam Indonesia, namun prakteknya: agama bukanlah sesuatu yang bisa dibeli oleh siapapun dengan harga sebongkah emas 'walau pasti ada harga yang masih bisa dirundingkan, dan walaupun kini banyak 'agama' yang dijual'. Kelompok 'unik' ini menjadi oposisi kuat, dan akan bertambah banyak bergabung ketika simbol-simbol gelombang besar memuat isu-isu besar yang semakin jauh dari apa yang diimani sebagai nash (imanen), keyakinan, jalan hidup, serta kehidupan seorang muslim.
Isu yang selalu tajam adalah memisahkan agama dan negara, menggiring lembaga-lembaga agama menjadi urusan privat bagi masyarakat 'puritan' dianggap etika tak bermoral dari cara masyarakat baru menggiring wacana utamanya: sementara ratusan juta orang di barat keluar dari afiliasi gereja sepanjang beberapa dekade terakhir, atau isu tentang aborsi, ketidak percayaan lembaga pernikahan, nyaris lima puluh persen lebih generasi muda barat lahir di luar nikah (seperti di skandinavia) atau kecilnya harapan bahwa pernikahan akan berlangsung langgeng sampai seumur hidup (di Amerika satu dari dua pernikahan akan berakhir perceraian). Tentu saja menjadi cermin kecurigaan cara timur memandang barat. Bagaimanapun juga sebagian kita tentu (walaupun meyakini bahwa sistem demokrasi, "hak asasi manusia", lingkungan hidup, etos kerja, disiplin pelayanan, taat aturan main-akuntabilitas, inovasi tekhnologi di dunia barat adalah jauh lebih memuaskan, atau tepatnya 'berbeda standar orientasi ') akan berfikir berulang kali untuk menerima secara mapan pikiran-pikiran gelombang baru. "seperti meracik obat: beberapa bahan yang baik apabila disatukan barang kali malah akan menjadi racun". Bisakah kita menggantikan privatisasi agama dengan melepaskan ratusan juta umat hanya karena mereka tidak terjangkau oleh informasi agama yang memadai dan terjejali oleh debat pasar yang justrus selalu disokong negara?
Sebenarnya kewajiban ilmiah kita yang dilahirkan dan dibesarkan di timur (untuk menyebutkan terutama komunitas muslim, atau umumnya komunitas non Eropa Barat - Amerika mindset) adalah menjebatani dan memberi pemahaman yang relevan terhadap gelombang masyarakat baru. Menerima pemikiran baru yang konon demi kehidupan "baru" berarti membuang pemikiran lama, membuang pemikiran lama berarti membuang kehidupan lama, ini artinya mengubah hidup kita, mengubah tujuan hidup kita (Gidden mengatakan gelombang baru sebagai manusia baru dengan sistem baru). Adalah rasa syukur bahwa kita, yang di timur, walaupun hanyalah tepian dari peta besar dunia beberapa dekade belakangan: masih memiliki hidupnya sendiri, Jepang telah berubah, China telah berubah, Uni Soviet telah berubah, Latin telah berubah, tapi peradaban Islam memiliki caranya sendiri dalam memandang masa depannya. Walau sejak awal abad 19 Pan-Muslim kita roboh (karena memang kompetisi menuntut demikian, setelah berpuluh abad menjadi juara) namun nilai-nilai yang kita junjung bersama (diantara ketaatan, ketakutan dan belakangan keraguan) relativ masih utuh.
Sesungguhnya Muslim tidak pernah benar-benar memposisikan oposit diantara peradaban lain, tidak barat, liberal, komunis atau nasionalis, itu yang membuat kita mudah untuk selalu belajar beradaptasi dan berdampingan. Walaupun dengan "kekalahan" politik masa lalu dan militer serta tekhnologi - metodelogi pengetahuan terutama, kita tidak lagi mendapatkan (untuk sementara) 'kue besar' yang selalu diperebutkan. Tapi muslim sepanjang sejarahnya diciptakan kalau tidak sebagai 'imam' maka akan selalu menjadi penyeimbang, pengkritik dengan suara keras, berkonfrontasi di areal-areal persinggungan. Atau barang kali justru menjadi sentral musuh bersama (melalui bayang-bayang terorisme)
Kita tidak menolak sekulerisme, adalah lebih baik bahwa agama dimurnikan dari unsur politik keduniawian, tapi kita menolah keras sekulerisme yang mengarah pada agama sebagai ruang privat (yang hanya urusan indivisu) dan menciptakan budaya permisif, bagaimana dengan urusan pernikahan, waris, wakaf, zakat, dan terutama segala urusan pendidikan agama generasi mendatang? Mewarisi agama sebagai 'kehidupan dan tujuan hidup' adalah dengan menjaga keberlanjutannya, dan itu memerlukan 'pinjaman' lampu hijau politik, agama yang permisif dan membiarkan kehidupan berdasarkan prinsip relativisme dan keraguan akan ditinggalkan banyak umatnya karena 'ia' tentu akan kalah bersaing dengan 'hegemoni pasar' yang didukung oleh sistem struktur negara yang lebih kuat apalagi dalam konteks negara demokrasi. Demokrasi itu pada dasarnya baik, bahwa setiap manusia dianggap sama, dan memiliki suara yang sama, tapi bagaimanapun demokrasi tentu saja merupakan bagian dari permainan wacana, dimana makna-makna berjumpa untuk mempererat jabatan tangan atau sebaliknya saling memusnahkan. Ketika struktur agama tidak ikut bertarung dan menuntut pelayanan yang sama seperti wacana pasar, ia akan dikalahkan dengan teori-teori pasar: relativisme, eksperimentalisme, dekonstruksi, semiotika, nihilisme, determinisme, humanisme, individualisme, perenialisme: yang pada hakekatnya sebagian besar berlawan arah dengan cita-cita seorang muslim yang menuntut kepastian dan membuang segala keraguan.
Jika kita bicara tentang 'marginalitas' kelompok alternativ terbesar multinasional yaitu umat islam, kita memang tidak selalu harus mengacungkan tangan pada 'mereka' dan 'dia'. Sering kali sebagian besar murni berasal dari pilihan komunitas besar muslim sendiri. Dari dipecah-pecah dalam kepentingan politik sesaat, penjajahan fisik dan pemikiran, terpuruk dibidang 'permainan ekonomi', kesalahan metodelogi ilmiah, dan terutama rasa tidak percaya diri akan identitas dan nilai-nilai besarnya sendiri: ini seperti membiarkan wacana jilbab, waris, wanita, politik islam, minoritas dalam islam terjun bebas dalam debat pasar yang bukan hanya menggunakan logika namun dorongan untuk membentuk wacana publik yang salah terhadap prinsip-prinsip yang berbeda sebagai pemeluk muslim. Tidak ada hubungan antara ketaatan dalam prinsip-prinsip islam dengan korupsi, ketidak disiplinan, terorisme, dan fatalisme-kemiskinan!! Apa salahnya wanita muslim memakai jilbab? mengajak keluarga dan sesama muslim sholat lima waktu ? tidak minum bir atau babi atau wine dan menolak dengan tegas serta sopan tawaran-tawaran tersebut ? apa yang salah dengan menjaga kehormatan wanita dengan mengajaknya pulang sebelum larut malam ? apa salahnya menjaga kontak antara pria dan wanita selama diluar muhrim (bukan saudara sedarah) ? dan apa yang salah dengan kesetiaan pada keluarga? Seorang muslim sejati tentu lebih tegas bisa menjawabnya, dari pada mereka yang "setengah muslim" yang terkurung dalam imajinasi relativisme nilai dan keyakinan akan agama sebagai ruangan privat yang hanya antara ego-pribadi dan Tuhannya, mereka yang beragama tanpa harus berkonsultasi atau meminta fatwa dengan ahli agamanya (dengan menyamakan misalnya: antara yang tidak pernah membaca al Quran, yang membaca al Quran satu 'ain, yang membaca al Qur'an satu juz, yang hafal al Quran, yang cuma bisa membaca terjemahan al Quran, yang bisa menafsirkan al Quran, dan yang bisa mengulas teks asli dengan konteks: (ketahuilah bahwa belajar agama membutuhkan tingkatan-tingkatan pemahaman keilmuan (hierarki) sama seperti anda belajar sebagian besar ilmu lainnya))
Tidak ada salahnya bahwa keyakinan akan keselamatan eksklusif hanya untuk satu golongan tetap tertanam bagi seorang muslim sejati (bagaimana golongan yang lain ? jawablah wallahua'lam: itu hak prerogatif Allah : memang nyatanya jauh berbeda antara aqidah islam dengan agama nasionalisme Yahudi atau trinitas Kristen, atau perenung Budha, atau Hindu Tradisi: Jangan Disamakan!). Tidak ada kebenaran yang benar-benar relativ, namun ada keyakinan yang selalu ingin dipertahankan dengan mutlak karena justru keyakinan itulah "cara hidup" "kehidupan" dan "tujuan hidup". Toh tidak ada yang menjamin bahwa gelombang besar yang saat ini menjadi trend "sexy" sebagian muslim akan lebih mendekatkan kita pada Kedamaian-Ketenangan, selain kepastian akan banyak timbul pertanyaan-pertanyaan ragu serta curiga. Tidak pernah ada jaminan bahwa logika kita akan mampu menjangkau Tuhan dan segala perintah larangannya yang nyata pada hakikatnya tidak cukup dengan metode skiptis, eksperimental, empiris, dan verifikatif. Jadi tunjukkan bahwa kita mampu mewarisi 'kehidupan' yang terpilih untuk kita, untuk menjadi cerdas memandang barat dan "ketertinggalan" kita dalam wacana mereka yang membutuhkan kritik terus menerus.
Adalah agama yang mampu lebih efektif mendorong manusia untuk mempertahankan batas-batas keinginannya, yang mampu membedakan antara kebutuhannya dan tuntutan yang hanya sekedar dorongan naluriahnya, yang mampu membedakan antara sikap sebagai hamba dengan cara arogan sebagai manusia ambisius tak terbatas, yang mampu membedakan antara yang ingin selalu kita pertahankan dalam ketidak pastian. Tidak ada ruginya menjalankan perintah atau menjauhi larangan Tuhan (karena ia tidak menuntut makhluknya untuk membayar dengan uang berlebihan), namun tentu saja ada kerugian besar bila kita salah memilih barang di Mall hanya karena kita mendengarkan iklannya berulang-ulang.
Tidak akan pernah sama mereka yang sholat dengan hati khusuk, yang mengekang keinginan dengan puasa penuh ikhlas, yang percaya dengan hari pembalasan dan yang lebih mencintai pertemuan dengan hakikat Tuhan, dengan mereka 'itu', jiwa-jiwa yang dipenuhi dengan pertanyaan tak habis-habisnya, dan hilang bersama gemuruh pasar. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih (untuk semua makhluknya) dan Penyayang (untuk muslimin-muslimah).