Sabtu, 02 Juni 2012

Alanis Morissette - Hand In My Pocket

Posted by MOVAZ On 07:53



MEMENTO : "memderit" (3-9)

Posted by MOVAZ On 00:37


'p' dan horizon

"MENDERIT"
(bukan menderita)


(\)
“ada burung bersarang di kepalaku”
Hasrat yang ingin terbang ke sana ke mari


“relung kalbuku”
Seperti parit sempit, sesak, ingin muncrat!


“ada topeng lekat di muka”
Apakah senyum?
Apakah marah?
Apakah duka?
Apakah  itu … ?


(\\) 
Tubuhku menyempit, jiwaku mengglegar
Terdampat seperti asap lampu wasiat


(\\\)
Bintang-bintang di atas kepala
Dimanakah engkau tanda-tanda?
Ataukah harus melempar dadu?
Ikut adu kartu?


(01)
Layang-layang
Gapangan mengiau hingga pagi
Adikku sungguh menciptakannya
Menerbangkannya
Dia tahu segala permainannya


free angle
(02)
Tunggulah!
Makanan kita masih diatas kuali
Beraroma asing
Santapan yang mengenyangkan
Tapi begitulah rasanya ..


(03)
Di permainan sepak bola
Back beradu paha
Akulah jagonya!
Hingga salah menendang batu
Sebulan menjadi pincang


(04)
Ketika layar film terkembang
Semua orang berduyung
Senja hingga larut malam
Menghibur kami orang kampung


(05)
Kakiku menginjak liat
Bau tanah di pematang sawah
Kala padi-padi masih hijau
Sambil menyeruput es pleret
Desir angin menggelayut
Aku terlelap


(06)
Menaiki gunung terengah-engah
Jalan licin atau lereng curam
Seperti bertambah-tambah beban
Tidaklah berfikir ke puncak
Hanya ingin tidur di kamar


http://yusmigraphy.blogspot.com/


(07)
Engkau datang
Seolah diambang bencana
Aku terheran
Mengapa dunia begitu gelisah!


(08)
Burung berjajaran di kabel listrik
Bangau berbaris di langit senja
Pelataran rumah riuh dengan daun pala berguguran
Sayup firman yang di daras dari madrasah


(09)
Aku terbang menemuimu
Kamu memang nampak lebih tua
Sambil menghidang jamuan
Kita bercanda
Aku berfikir kita memang terpaut
Maka aku pulang saja


(10)
Di Seminyak, langit merengkuh bumi
Sayup bergumal ombak
Kita terbawa larut
Bau ganjamu tercium lagi
Sudah ku bilang kita berbeda!


(11)
Di puncak Mandalawangi
Hanya kita manusia di sana
Bergulung-gulung seolah Hok Gie
Terimakasih telah menenggak sepiku


(12)
Di Lhoong
Pendar pantai pucat pasi
Hanya ada seonggok munasah
Matahari terik di atas kepala
Dan rumput-rumput kering selepas bah
Aku mencoba mengisi hatiku


(13)
Kisah tentang kamu dulu yang pertama
Telah memusingkan kepalaku
Merindu mu sampai kepalang
Menidurkanku di pekuburan
Di kampung halaman kau ajarkan cinta


(14)
Kanak-kanak tidak bermain
Setumpuk buku, menghitung dan menghafal
Tugas tugas esok hari
Selalu sama pagi dan pagi lagi
Ibu, aku tidak mau sekolah !


(15)
Padi-padi yang siap diketam
Sesekali kau menatapku sipu
Mempersiapkan makanan siangku
Berapa umur mu anak manis?
Kau bilang tujuh
Tapi engkau seperti ibuku!


http://yusmigraphy.blogspot.com/
(16)
Menjelang pagi
Kau merobohkan ku
Baumu seperti dupa kemenyan
Mukamu sepucat sayuran kemarin sore
Kau kalah tapi aku remuk mulai saat itu
Dan permainan lalu usai


(17)
Ada temanku tanpa mimik
Tak pernah membela diri walau terlunta
Ia memiliki banyak mimpi
Di rumah kecilnya menyusun rencana besar
Menyukai permainan dengan dunia
Lama aku tak jumpa
Sampai ku tahu dia telah tiada


(18)
Di kelasku ada banci
Satu meja dengan ku
Rumah ibunya tersembunyi di kebun bambu
Ibunya seorang diri
Tak lama temanku menikah
Dua anak kembar mati satu
pintar tak berpunya ia itu temanku


(19)
Aku menyebrangi pohon-pohon jati
Melintasi peternakan bau
Ada jembatan kayu
Tiap hari bermain dengan mu
Kamu teman pertamaku
Pemuda yang pandai
Kini jadi orang kota


(20)
Seusai sekolah aku membuat janji
Ia menuntunku di sengkedan sawah
Aku merebah
Menghitung luasnya senja
Ia menunggu ku pasrah
Bermain di kolam ikannya
Pada urusan bisnis yang selalu ia kisahkan
Sesaat ia koma
Sesaat lalu mati


huruf-huruf aruh


(21)
Sebuah teater akhir tahun
Aku suami kau istriku
Kita terlihat serasi
Dan tidak ada penonton yang tidak suka
Bulan berbulan
Aku mendengar engkau juga mati


(22)
Aku bercanda padamu
Aku mencintai mu
Tapi aku tidak sungguh mencintai mu
Hanya ingin ..


(23)
Aku bercanda padamu
Aku tidak mencintai mu
Tapi aku sungguh mencintai mu
Tapi tidak ..


(24)
Aku berlayar
Ke kota dengan sengatan garam
Orang-orangnya lebih coklat
Dan tuaknya lebih kuat
Di Bayam aku mencoba mengeja gelap
Pantai yang berisik
Rumah panggungnya atau perahu-perahunya
Tepar di tanah tak bangun bangun


(25)
Di pusat negeri
Sebuah kelompok persaudaraan
Orang-orang ber’martabat’
Pakaian-pakaian putih
Berdoa dan mengaji
Memandang satu sama lain
Dan bertanya:
“bagaimana sholat di bulan?”
“bagaimana puasa di kutub utara?”
“Bagaimana zakat via transfer?”


padepokan juhu, h.s.t
(26)
Di sini
Hanya bisa menonton
Pesta malam pejantan cabul dan wanita binal
Atau kelaparan-kelaparan di benua hitam
Bom, kapsul waktu dan pengayaan uranium
Politik dan intrik
Geliat bursa dan cerita collapse
Tumpah darah dan kelahiran
“pencari” filsafat atau pencerahan hati


(27)
Ketika WTC runtuh, 2001
Aku menatap pekak malam itu
“dunia akan berubah!” teriakku pada Tuhan
Sejak itu aku tidak mau hanya berhenti
Tidak hanya menonton-Mu !


pondogan kiyu



Jumat, 01 Juni 2012

MEMENTO : BISIKAN EMBUN (2-9)

Posted by MOVAZ On 10:44

(*)
segalanya semula embun             ...


lalu air
menetes di haribaan
di sini
di bawah kaki ku

lalu genang                                      ...
menelusup dicerukan
lembab rumput-rumput
tak bersuara
(**)
lalu gemericik
berkelok meliuk
mendesah batu-batu kali
mengalir pelan

lalu deras                                                                           ....
diantara pusaran
cadas-cadas keras
jembatan berayun-ayun

lalu gemuruh
jala-jala besar perahu
orang-orang berseliwer
sampah

air terjun dan terjunlah air..

(***)
pada delta                   ...
pantai dan samudra
lalu meleleh 
menjadi udara, kabut, awan
hujan menjadi deras
                                pagi ini ...
                                   memucat








(*) sodahead.com
(**) mybiru.com 
(***) mubi.com

Selasa, 29 Mei 2012

MEMENTO : MENELAN SEBUTIR CINTA (1-9)

Posted by VERO On 23:41

di manakah itu
kala senja melumat waktu
daun daun berguguran
sebatang nyiur  roboh

ombak yang bersebrangan
saling menghempas
menenggelamkan
luruh sesaat sepanjang malam
Dari : bonnaroo.proboards.com
apakah itu kamu?
yang di sana itu
menunggu dengan pasrah
bulan purnama tertutup jelaga

pasanglah kemudimu sayang
sambil menunggu langit memendar
dan angin selaksa kapas
menghembus hingga ke cakrawala

seperti itulah pesta pora berakhir
yang lirih tanpa lilin dan kembang api
tanpa bunga-bunga bertaburan
tanpa jamuan makan
lalu terlelap berselimut gulita

cobalah untuk diam
dan menunduk ke bawah
ketika kaki hanya meraba tanah
kita bukan kesatria bersayap gagah

penggallah kenangan
tumbangkan puncak harapan itu
bersembunyi di kedalaman
dan menghilang seperti buronan

mengantarkan ingatan pertapaan
di pucuk-pucuk bukit
cemara-cemara yang berbisik
langit yang luruh hujan

lalu berkelok-kelok sungai
keruh tanpa cela
terombang ambing
bermuara di lepasan samudra

kamu kah itu? "haan"
tertidur rebah digagahi langit jingga
berlari kecil di lembayung mimpi
tak mudah membangunkanmu sekarang

semut berebut remah
embun yang menetes pelan
di liat cacing melahap mamah
ada angin menepuk daun kering

kehidupan tidak berhenti sayang
walau tidak meninggalkan pesan
tanpa menunda - nunda
sambutlah perjalanan

masihkah ragu dan berhenti?
lepaskan tudung mu, lemparkanlah?
biarkan menghelai wajahmu
tidak ada yang salah dengan noda
hanya aku terlahir terlalu tua
janganlah diam
cobalah berdoalah
moga tertidur pulas
di dalam polos mu

KIDUNG IDEALISME VS MENCOBA BERFIKIR RINGAN

Posted by MOVAZ On 09:31

Sekian lama saya tak jumpa teman saya, setelah masing-masing tertaut jauh dengan dateline (waktu tenggat) yang menghantui seperti tamu menggedor-gedor pintu rumah sambil meminta uang 6 juta, akhirnya tadi pagi saya bersua juga. Teman saya orang asli Kalimantan: skeptis, idealis, out of box, aktiv dan scholar, bisa saya bilang seperti itu untuk menggambarkan jiwanya yang besar itu yang terselubung dalam tubuhnya yang imut dan "bebifis".


Dia selalu berbicara banyak dengan ide-ide skeptisnya, curiga pada para birokrat, mengembara pada program-program yang 'agaknya' kelewat straight (kenceng), sampai-sampai untuk kesekian kalinya dianggap terlalu offensive (melawan) sehingga ijin penelitiannya ditolak birokrat setempat. Tapi sebagaimana sifat keRadda-an nya, dia membuktikan apa yang diucapkannya selalu tepat sasaran, dia menunjukkan video risetnya yang membuktikan kalau ndobosnya benar! Barang kali bagi saya satu-satu kesalahannya adalah terlalu bergelora muda sehingga melompati wawasan orang tua tanpa permisi, para birokrat yang sejauh saya tahu jarang lagi buka buku-buku terbaru tentu saja bakal tersinggung.


Ide gilanya hari ini adalah membuat cottage buat 'kesibukan' masyarakat setempat yang ia teliti lengkap dengan proposalnya, masyarakat yang tanah-tanahnya terlanjur dijual untuk orang luar guna fasilitas pariwisata yang mereka sendiri tak bisa mencicipi 'kue legit' itu. Ya, sebuah naluri orang kaya yang berurusan dengan komunitas lokal, awalnya ramah, serasa santun, lalu setelah dipercaya 'melupakan' semua kecakapannya. Mendirikan tembok tembok batas secara fisik serta sosial, dan merasa sangat memiliki apa yang telah ia beli seolah-olah tinggal di pulau itu sendiri.


Bagi saya usaha teman saya luar biasa brilliant (cakap), ketika kemarin saya di suku terpencil, saya tidak sempat berfikir pemberdayaan sejauh itu. Seperti yang saya katakan sebelumnya "urusan diri saya sendirilah yang menjadi fokus utama", terutama seolah ada tamu yang ketok-ketok pintu minta 6 juta. Whatever (sak karepe mbacot) lah urusan yang lain, saya cuma datang mencari data lalu pulang, mengolahnya, ujian TA, dapat gelar sarjana, lalu kerja dan kemudian nikah. Titik. Memikirkan orang lain seperti memperlambat jalannya 'mimpi siang' saya, mungkin bagi Radda, pikiran saya baik untuk mengefisienkan waktu-fikiran, tapi tidak bagi "kasih". Demikian teman saya percaya bahwa "kasih-Nya" melebihi segala yang kita harapkan.


Saya lambat laun terpesona dengan idenya, tapi untuk sementara siapalah saya selain cuma bisa berdoa. Seperti biasa teman saya bilang "your Eyes!!" (Mata Mu!), hehe. Kadang sangat tidak enak menjadi orang yang tidak cukup punya uang untuk sekedar membantu sesama, jangankan untuk membantu sesama, sepertinya tanggal tua semacam ini bakal menjadi ancaman rentan bencana sosial bagi spesies seperti saya. Tapi begitulah, saya merasa cuma bisa berdoa agar segala usahanya berhasil.


Radda teman saya tersebut memang teramat idealis "semoga tetap seperti itu, walaupun mungkin kelak tersandung kredit mobil, atau KPR barangkali". Saya merasa sulit untuk menjadi idealis, apalagi bagi orang dewasa untuk saat yang lama, ketika harus berbenturan dengan rites of life: menikah, membesarkan anak dan usaha ketika senja untuk masuk surga. Saya punya pengalaman lucu ketika bertemu dengan penulis buku yang tulisannya sangat kiri dan ekstrim, nun, ketika bertemu beliau beberapa tahun setelah buku tersebut terbit, ia sekarang adalah orang yang ditulis dalam bukunya tersebut sebagai "pengkhianat logika". Bagaimana mungkin orang yang berjuang untuk masyarakat yang tergusur oleh sawit kemudian hari bekerja untuk perusahaan sawit guna mencari lahan-lahan yang cocok untuk menanam sawit. Tapi ya sudahlah, barang kali apabila kejadian itu terjadi pada saya siapa tahu saya akan semakin lebih parah. 


Pada sebuah percakapan (lanjutan) sore tadi bersama Radda, ia sempat bilang pada teman di sampingnya; habis kuliah mau jadi apa? temannya bilang peneliti, mengapa? katanya dengan bibir berbusa-busa, "Indonesia jarang peneliti (bahkan dibanding negara kecamatan Singapura): padahal peneliti adalah kelompok yang lebih dekat pada pencarian masalah sesungguhnya bangsa ini dan sekaligus memberi solusi real serta konkrit". Ya ya ya, saya pikir busanya teman tadi tak sia-sia, saya juga berfikir penelitian adalah hal yang paling langka di Indonesia, jebolan kampus keren sering kali hanya terserap perusahaan multi nasional atau birokrat, sehingga dengan mudahnya tergantung pada gurita global yang kadang kala sering kali berhadap-hadapan dengan kepentingan bangsa. Apa yang kemudian terjadi? ketika pengusaha mandiri lokal berjuang untuk kompetisi, justru kelompok swasta global menghalangi independensi tersebut (pelan tapi kentara).


Orang pintar (golongan tekhnis) kadang berfikir Flatt, datar dalam artian tidak mau ambil resiko bertaruh, mereka terlalu sibuk dengan urusan achievement yang sekedarnya nampak dekat jelas (kepentingan pendek) dan tidak terlalu 'bawel': mobil, apartemen, gaji A++, namun menjadi 'karyawan tetap'. Ya, demikian kata Radda, "terlalu banyak hal yang perlu di kritik oleh simbol media kita, citra pencapaiannya yang selalu adalah materi mengikuti pasar konsumerisme, jauh dari kesadaran !" (dari sini pikiran saya melayang-layang dibawa berlayar di samudra berfikir mas Radda ). Dalam hati saya bilang, bagaimana bisa dibilang sukses, kalau sadar, bertindak, namun tidak punya mobil dan rumah yang sudah lunas! saya melempar pandangan ke jalan (karena kami memang sedang ngopi angkringan di pinggir jalan), melihat jalanan yang mancet dengan mobil-mobil yang baru pulang dari kantor. Bisakah saya melakukannya. Untuk tidak terlalu mencemaskan tentang penilaian jamak banyak orang,  lalu bergegas hanya untuk mencari kesadaran sebagai manusia yang 'utuh', setidaknya membantu beberapa orang di sekitar saya, dengan tidak lagi mengeluh tentang kantong tipis, yang mengakibatkan saya tidak pernah berani  untuk 'berbagi'?




Saya patut bersyukur pada Tuhan bahwa saya punya teman seperti itu, jarang-jarang pembicaraan seperti ini datang dan menarik diri saya untuk  ingat tentang apa gunanya saya menjadi manusia? dan untuk apa saya menjadi berilmu serta berbudi? mengingat kembali bahwa menjadi kaya bukanlah tujuan, namun amanah yang hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan sesungguhnya yang lebih mulia, menemukan dan menyebarkan kesadaran pribadi, kesadaran menjadi manusia. Saya kembali melayang ke pepohon-pepohonan besar di Pegunungan Meratus, ke rimbunan semak-semak, dengan binatang malam yang riuh, ke sungai  Iangmuhut yang memantul seperti kristal di sore hari, pada anak serta orang tua dengan tatapan kosong seolah meminta saya untuk mendengarkan keresahan hati mereka, dan kemudian berjalan beberapa kilo meter, menemukan tanah-tanah longsor tempat orang-orang kaya dari Jakarta dan Luar Negeri merogoh tanah dan hutan dalam dalam lalu meninggalkannya seperti pemcuri kain kafan yang mengacak-acak pekuburan yang tanahnya masih basah oleh upacara kematian kemarin sore. Semua tahu, dan saya pun  tahu, saya memiliki pengetahuan tentang itu, ada yang salah, ada yang aneh, namun saya belum memiliki kesadaran, setidaknya untuk menyusun 'rencana', hanya karena saya terlalu terlena dengan kesibukan kesibukan pribadi dan karena kemudian selalu merogoh dalam-dalam kantong celana saya yang kosong, maafkanlah saya Tuhan!








Senin, 28 Mei 2012

DI KEDALAMAN LEMBAH BALIEM

Posted by MOVAZ On 03:21

*
http://giraffesays.blogspot.com/2011/01/lembah-baliem-papua.html
Lembah Baliem! Tunggu saya di sana! Ya, Saya selalu bermimpi menziarahi "sekeping surga" itu, dimana "Permainan-Permainan Besar" Tuhan meliuk menjadi kesunyian dan kehampaan, tempat di mana waktu kemaren, kini, dan esok bersahutan dan bermuara di sebuah lembah tanpa bahasa.

Tentu saja itu semua cuma daya khayal saya yang kelewatan. Semua orang di luar sana resah, sehingga Baliem membutuhkan pendidikan yang layak, kesehatan yang mapan, dan layak dikenalkan bahwa mereka juga punya presiden, mereka punya negara, yang ibu kotanya beratus-ratus mil jaraknya. Begitulah kepingan itu dilukis kembali, terakota sahaja menjadi warna-warni pop. Lalu di sana "lihatlah-lihatlah sayang! mereka sudah berperadaban, mereka sudah mengenal Tuhan!" demikian teriak orang-orang beratus-ratus mil jaraknya.

Suatu waktu ketika saya di Kalimantan, orang-orang birokrat yang mengunjungi pegunungan berkoar bahwa "masyarakat ini tidak punya agama". Dan tentu saja orang-orang "ini" dengan rendah hati balik bertanya apa artinya agama bagi para birokrat? mengunjungi Makah? Jerusaleyim? Kavilawastu? Sungai Gangga? mereka, kaum birokrat, bukan hanya mempermasalahkan agama ketika sedang berdiri di pinggiran jaman, lebih dari itu "keterbelakangan atau keliaran" sering di acungkan di muka orang-orang yang berdiri pada tepian sejarah.

Saya adalah orang yang tidak pernah mau percaya pada relativisme nilai, atau pada absurd nya mekanisme kemajuan, tapi saya sangat menghormati perbedaan, pemahaman dan cara orang-orang atau masing-masing kelompok memahami dunia ini. Sebagian dari kita "di sini" tahu, bahwa "peradaban" selalu diarahkan di satu tujuan oleh orang-orang yang merasa menemukan"nya" terlebih dahulu. Kelompok ekonom, politisi, agamawan, filusuf, akademisi, dan birokrat, sadar atau tidak sadar bahu membahu untuk mengarahkan layar terkembang mereka agar mencapai jalur perjalanan yang mereka sepakati (saya secara tak sadar masuk di dalamnya), dan semua tanpa terkecuali harus mengikuti jejak-jejak itu tanpa 'bertanya' mau ke mana ? 

Namun mencoba keluar dari kotak universalitas nilai (yang mutlak), atau berusaha masuk dalam relativisme nilai sama-sama sulit bagi siapapun yang memiliki latar belakang di balik hidupnya. Keluarga, kota, negara, globalisasi selalu membuat aturan-aturannya sendiri sehingga peradaban dalam pribadi kita ditaklukkan sebagian atau seluruhnya; dikendalikan oleh kelompok-kelompok mainstream tertentu. Akhirnya saya perlu ragu, lalu tak tahu 'kelak' untuk siapa dan untuk apa saya harus berkunjung di kepingan sejarah seperti lembah Baliem?

Pendidikan dan pelayanan kita sebagai masyarakat ilmiah selalu direduksi (di turunkan) dalam pemahaman sejarah linier, biarpun sebagian dari kelompok alternativ kita bilang sejarah besar ini bisa kita lawan, namun perlawanan atau pembangkangan adalah bentuk dari konsekuensi sejarah, bukankah tidak menciptakan persimpangan sejarah?. Dalam alam bawah sadar saya selalu saja ada yang berteriak "untuk apa di tempat itu? membiarkan mereka menapaki nasib mereka sementara engkau hanya berkunjung sebagai peziarah! buatlah perubahan dan ajaklah mereka pada jalan yang sama seperti yang engkau pilih", dilain pihak ada suara yang jauh lebih lirih menanyakan pada saya "bukankah tak ada gunanya di sana, keberadaan hanya akan mengguncang garis sejarah mereka, bukankah lebih baik biarkan mereka menentukan nasib sendiri?". Akhirnya barang kali untuk lebih tepatnya saya hanya ingin mencoba berziarah, menemukan sesuatu yang terlupakan dari latar belakang kehidupan saya, dan siapa tahu bisa menjumpainya di sana? di pinggiran sejarah.

Baliem hanyalah sebuah lembah, tidak ada jalan setapak untuk pergi ke sana atau kembali kecuali dengan pasrah. Saya selalu berharap akan benar-benar di sama untuk waktu yang lama, dua atau lima tahun, melihat dunia dalam pandangan lain, yang mungkin bisa dihidangkan untuk kelompok sejarah besar, mereka yang barang kali nyaris melupakannya. Jika saya percaya bahwa jalan sejarah tidah hanya linier namun spiral, maka siapapun yang sekarang sedang duduk di kursi empuk, atau yang sedang menghitung gerak super dinamis bursa-bursa, bisa menikmati istirahatnya yang sebentar, untuk sejenak kembali menengok ke belakang, dan menziarahi masa-masa lalunya yang mungkin terlupakan. Bukan sebagai orang asing yang berkunjung hanya untuk "melepas lelah" di Bali, Katmandu, atau Makah. Namun menoleh ke belakang dan menemukan dirinya sendiri, walau hanya sebatas penonton di luar garis lapangan.


i
Aku gak perlu uang ribuan
Yang aku mau uang merah cepe'an
Aku gak butuh kedudukan
Yang penting masih ada lahan 'tuk makan

Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang... aku cukup senang
Dan akupun tenang

Aku gak ngerti ada banyak tambang
Yang aku tahu banyak hutan yang hilang
Aku gak perduli banyak nada sumbang
Kita orang ini dianggap terbelakang

Asal ada babi untuk di panggang
Asal banyak ubi untuk ku makan
Aku cukup senang... aku cukup senang
Dan akupun tenang

Hei... yamko rambe yamko...aronawa... ombe
Hei... yamko rambe yamko...aronawa... ombe
Hei ngino kibe kumbano kumbu beko
Yumano kumbu awe ade



http://giraffesays.blogspot.com/2011/01/lembah-baliem-papua.html

*

Sabtu, 26 Mei 2012

BERAGAMA DENGAN PERCAYA DIRI (Membaca Pikiran Tuhan 4)

Posted by MOVAZ On 10:15


Masyarakat baru, telah lama berjalan 'efektif' beberapa dekade terakhir. Teknologi barang kali menjadi motivator utama dalam membentuk karakter tersebut. Ketika era industri  telah berlalu menjadi retorika lama, dan era informasi menerjang tunggalanggang dan mengalahkan apapun yang menjadi rintangan "mungkin idealnya demikian" meskipun ternyata masih ada beberapa pengecualian. Yang kemudian mengundang dimulailah perang baru: perang antar wacana!

Beberapa cerukan-cerukan yang tidak bisa dibilang kecil menjadi momok evolutif masyarakat sosial baru (spesies baru, meminjam kata Derrida). Ide dan keyakinan lama yang sejauh melanpui sejarah kekinian ini masih melembaga dibanyak dunia timur menjadi alasan mengapa gelombang besar ini tidak serentak menimbulkan devosi (cara pelayanan) masif masyarakat dunia, dan justru menimbulkan ketegangan dan hambatan komunikasi.

Cerukan-cerukan ini menimbulkan pilar-pilar segregasi (pengasingan antar kelompok)  yang sulit ditembus: semisal sekulerisme, antitesis terhadap lembaga agama atau sebaliknya penolakan terhadap universalisme dan humanisme. Kelompok besar peradapat orang-orang muslim berada di dalamnya, eksklusivitas sebagian kalangan Katolik juga masuk di dalamnya, dan sedikit dari pecahan Protestan, kelompok-kelompok alternativ serta sebagian pandangan puritan. Ide tentang keselamatan satu golongan atau tentang kemutlakan wahyu memposisikan diri menjadi negasi (sangkalan) dari apa yang oleh gelombang baru dikumandangkan sebagai telah runtuhnya dogma-wahyu dan kembali pada tanda konkrit realitas masyarakat. Di barat (istilah untuk menyebutkan Eropa Barat dan Amerika Utara) , kelompok negasi ini kehilangan banyak pengikut. Karena lingkungan yang diciptakan di sana mendorong spesies manusia lebih menyukai kebebasannya, walaupun tanpa berfikir ulang apakah kebebasan menjamin kemerdekaannya, kita mungkin akan kembali merunut tentang sinyal pasar dan tekanan 'penuntutan, pengakuan'.

Di Indonesia kita, gejala ini tidak mudah dibaca oleh kalangan menengah, namun negasi adalah cerukan besar yang diadakan dalam nalar kritis kelompok terabaikan: masyarakat miskin dan ratusan lembaga puritam khususnya di kalangan Islam. Walaupun gambaran publik seolah mengarahkan pada islam yang 'teramat taat' sering dianggap "salah tempat" atau bahkan "bibit teroris" dalam dunia modern islam Indonesia, namun prakteknya: agama bukanlah sesuatu yang bisa dibeli oleh siapapun dengan harga sebongkah emas 'walau pasti ada harga yang masih bisa dirundingkan, dan walaupun kini banyak 'agama' yang dijual'. Kelompok 'unik' ini menjadi oposisi kuat, dan akan bertambah banyak bergabung ketika simbol-simbol gelombang besar memuat isu-isu besar yang semakin jauh dari apa yang diimani sebagai nash (imanen), keyakinan, jalan hidup, serta kehidupan seorang muslim.

Isu yang selalu tajam adalah memisahkan agama dan negara, menggiring lembaga-lembaga agama menjadi urusan privat bagi masyarakat 'puritan' dianggap etika tak bermoral dari cara masyarakat baru menggiring wacana utamanya: sementara ratusan juta orang di barat keluar dari afiliasi gereja sepanjang beberapa dekade terakhir, atau isu tentang aborsi, ketidak percayaan lembaga pernikahan, nyaris lima puluh persen lebih generasi muda barat lahir di luar nikah (seperti di skandinavia) atau kecilnya harapan bahwa pernikahan akan berlangsung langgeng sampai seumur hidup (di Amerika satu dari dua pernikahan akan berakhir perceraian). Tentu saja menjadi cermin kecurigaan cara timur memandang barat. Bagaimanapun juga sebagian kita tentu (walaupun meyakini bahwa sistem demokrasi, "hak asasi manusia", lingkungan hidup, etos kerja, disiplin pelayanan, taat aturan main-akuntabilitas, inovasi tekhnologi di dunia barat adalah jauh lebih memuaskan, atau tepatnya 'berbeda standar orientasi ') akan berfikir berulang kali untuk menerima secara mapan pikiran-pikiran gelombang baru. "seperti meracik obat: beberapa bahan yang baik apabila disatukan barang kali malah akan menjadi racun". Bisakah kita menggantikan privatisasi agama dengan melepaskan ratusan juta umat hanya karena mereka tidak terjangkau oleh informasi agama yang memadai dan terjejali oleh debat pasar yang justrus selalu disokong negara?

Sebenarnya kewajiban ilmiah kita yang dilahirkan dan dibesarkan di timur (untuk menyebutkan terutama komunitas muslim, atau umumnya komunitas non Eropa Barat - Amerika mindset) adalah menjebatani dan memberi pemahaman yang relevan terhadap gelombang masyarakat baru. Menerima pemikiran baru yang konon demi kehidupan "baru" berarti membuang pemikiran lama, membuang pemikiran lama berarti membuang kehidupan lama, ini artinya mengubah hidup kita, mengubah tujuan hidup kita (Gidden mengatakan gelombang baru sebagai manusia baru dengan sistem baru). Adalah rasa syukur bahwa kita, yang di timur, walaupun hanyalah tepian dari peta besar dunia beberapa dekade belakangan: masih memiliki hidupnya sendiri, Jepang telah berubah, China telah berubah, Uni Soviet telah berubah, Latin telah berubah, tapi peradaban Islam memiliki caranya sendiri dalam memandang masa depannya. Walau sejak awal abad 19 Pan-Muslim kita roboh (karena memang kompetisi menuntut demikian, setelah berpuluh abad menjadi juara) namun nilai-nilai yang kita junjung bersama (diantara ketaatan, ketakutan dan belakangan keraguan) relativ  masih utuh.

Sesungguhnya Muslim tidak pernah benar-benar memposisikan oposit diantara peradaban lain, tidak barat, liberal, komunis atau nasionalis, itu yang membuat kita mudah untuk selalu belajar beradaptasi dan berdampingan. Walaupun dengan "kekalahan" politik masa lalu dan militer serta tekhnologi - metodelogi pengetahuan terutama,  kita tidak lagi mendapatkan (untuk sementara) 'kue besar' yang selalu diperebutkan. Tapi muslim sepanjang sejarahnya diciptakan kalau tidak sebagai 'imam' maka akan selalu menjadi penyeimbang, pengkritik dengan suara keras, berkonfrontasi di areal-areal persinggungan. Atau barang kali justru menjadi sentral musuh bersama (melalui bayang-bayang terorisme)

Kita tidak menolak sekulerisme, adalah lebih baik bahwa agama dimurnikan dari unsur politik keduniawian, tapi kita menolah keras sekulerisme yang mengarah pada agama sebagai ruang privat (yang hanya urusan indivisu) dan menciptakan budaya permisif, bagaimana dengan urusan pernikahan, waris, wakaf, zakat, dan terutama segala urusan pendidikan agama generasi mendatang? Mewarisi agama sebagai 'kehidupan dan tujuan hidup' adalah dengan menjaga keberlanjutannya, dan itu memerlukan 'pinjaman' lampu hijau politik, agama yang permisif dan membiarkan kehidupan berdasarkan prinsip relativisme dan keraguan akan ditinggalkan banyak umatnya karena 'ia' tentu akan kalah bersaing dengan 'hegemoni pasar' yang didukung oleh sistem struktur negara yang lebih kuat apalagi dalam konteks negara demokrasi. Demokrasi itu pada dasarnya baik, bahwa setiap manusia dianggap sama, dan memiliki suara yang sama, tapi bagaimanapun demokrasi tentu saja merupakan bagian dari permainan wacana, dimana makna-makna berjumpa untuk mempererat jabatan tangan atau sebaliknya saling memusnahkan. Ketika struktur agama tidak ikut bertarung dan menuntut pelayanan yang sama seperti wacana pasar, ia akan dikalahkan dengan teori-teori pasar: relativisme, eksperimentalisme, dekonstruksi, semiotika, nihilisme, determinisme, humanisme, individualisme, perenialisme: yang pada hakekatnya sebagian besar berlawan arah dengan cita-cita seorang muslim yang menuntut kepastian dan membuang segala keraguan.

Jika kita bicara tentang 'marginalitas' kelompok alternativ terbesar multinasional yaitu umat islam, kita memang tidak selalu harus mengacungkan tangan pada 'mereka' dan 'dia'. Sering kali sebagian besar murni berasal dari pilihan komunitas besar muslim sendiri. Dari dipecah-pecah dalam kepentingan politik sesaat, penjajahan fisik dan pemikiran, terpuruk dibidang 'permainan ekonomi', kesalahan metodelogi ilmiah, dan terutama rasa tidak percaya diri akan identitas dan nilai-nilai besarnya sendiri: ini seperti membiarkan wacana jilbab, waris, wanita, politik islam, minoritas dalam islam terjun bebas dalam debat pasar yang bukan hanya menggunakan logika namun dorongan untuk membentuk wacana publik yang salah terhadap prinsip-prinsip yang berbeda sebagai pemeluk muslim. Tidak ada hubungan antara ketaatan dalam prinsip-prinsip islam dengan korupsi, ketidak disiplinan, terorisme, dan fatalisme-kemiskinan!! Apa salahnya wanita muslim memakai jilbab? mengajak keluarga dan sesama muslim sholat lima waktu ? tidak minum bir atau babi atau wine dan menolak dengan tegas serta sopan tawaran-tawaran tersebut ? apa yang salah dengan menjaga kehormatan wanita dengan mengajaknya pulang sebelum larut malam ? apa salahnya menjaga kontak antara pria dan wanita selama diluar muhrim (bukan saudara sedarah) ? dan apa yang salah dengan kesetiaan pada keluarga? Seorang muslim sejati tentu lebih tegas bisa menjawabnya, dari pada mereka yang "setengah muslim" yang terkurung dalam imajinasi relativisme nilai dan keyakinan akan agama sebagai ruangan privat yang hanya antara ego-pribadi dan Tuhannya, mereka yang beragama tanpa harus berkonsultasi atau meminta fatwa dengan ahli agamanya (dengan menyamakan misalnya: antara yang tidak pernah membaca al Quran, yang membaca al Quran satu 'ain, yang membaca al Qur'an satu juz, yang hafal al Quran, yang cuma bisa membaca terjemahan al Quran, yang bisa menafsirkan al Quran, dan yang bisa mengulas teks asli dengan konteks: (ketahuilah bahwa belajar agama membutuhkan tingkatan-tingkatan pemahaman keilmuan (hierarki) sama seperti anda belajar sebagian besar ilmu lainnya))

Tidak ada salahnya bahwa keyakinan akan keselamatan eksklusif hanya untuk satu golongan tetap tertanam bagi seorang muslim sejati (bagaimana golongan yang lain ? jawablah wallahua'lam: itu hak prerogatif Allah : memang nyatanya jauh berbeda antara aqidah islam dengan agama nasionalisme Yahudi atau trinitas Kristen, atau perenung Budha, atau Hindu Tradisi: Jangan Disamakan!). Tidak ada kebenaran yang benar-benar relativ, namun ada keyakinan yang selalu ingin dipertahankan dengan mutlak karena justru keyakinan itulah "cara hidup"  "kehidupan" dan "tujuan hidup". Toh tidak ada yang menjamin bahwa gelombang besar yang saat ini menjadi trend "sexy" sebagian muslim akan lebih mendekatkan kita pada Kedamaian-Ketenangan, selain kepastian akan banyak timbul pertanyaan-pertanyaan ragu serta curiga. Tidak pernah ada jaminan bahwa logika kita akan mampu menjangkau Tuhan dan segala perintah larangannya yang nyata pada hakikatnya tidak cukup dengan metode skiptis, eksperimental, empiris, dan verifikatif. Jadi tunjukkan bahwa kita mampu mewarisi 'kehidupan' yang terpilih untuk kita, untuk menjadi cerdas memandang barat dan "ketertinggalan" kita dalam wacana mereka yang membutuhkan kritik terus menerus.

Adalah agama yang mampu lebih efektif mendorong manusia untuk mempertahankan batas-batas keinginannya, yang mampu membedakan antara kebutuhannya dan tuntutan yang hanya sekedar dorongan naluriahnya, yang mampu membedakan antara sikap sebagai hamba dengan cara arogan sebagai manusia ambisius tak terbatas, yang mampu membedakan antara yang ingin selalu kita pertahankan dalam ketidak pastian. Tidak ada ruginya menjalankan perintah atau menjauhi larangan Tuhan (karena ia tidak menuntut makhluknya untuk membayar dengan uang berlebihan), namun tentu saja ada kerugian besar bila kita salah memilih barang di Mall hanya karena kita mendengarkan iklannya berulang-ulang

Tidak akan pernah sama mereka yang sholat dengan hati khusuk, yang mengekang keinginan dengan puasa penuh ikhlas, yang percaya dengan hari pembalasan dan yang lebih mencintai pertemuan dengan hakikat Tuhan, dengan mereka 'itu', jiwa-jiwa yang dipenuhi dengan pertanyaan tak habis-habisnya, dan hilang bersama gemuruh pasar. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih (untuk semua makhluknya) dan Penyayang (untuk muslimin-muslimah).